Angka itu lebih optimistis dari target
pemerintah yang mematok pertumbuhan ekonomi 6,4%, inflasi 5,3%, SBI 3
bulan 6,5% dan kurs Rp9.250 per US$. Sekadar informasi, pertumbuhan
ekonomi tahun ini dipatok 5,7%, inflasi 5,3%, SBI 3 bulan 6,5%, dan
kurs Rp9.000 per US$.
Argumen yang disodorkan keduanya tak
jauh berbeda, antara lain membaiknya perekonomian Amerika Serikat (AS)
dan Eropa pascakrisis keuangan global. Meski, di sini Stanchart
terlihat jauh lebih realistis dalam memproyeksi target suku bunga
acuan, inflasi, dan nilai tukar.
Segendang sepenarian dengan argumentasi
itu adalah proyeksi ekonom LPEM UI yang telah dikenal luas sebagai
karib pemerintah, yakni Muhammad Chatib Basri. Staf khusus mantan
Menkeu Sri Mulyani ini menyandarkan argumennya terutama pada penguatan
investasi.
Chatib melihat investasi tahun depan
lebih kuat karena impor barang modal dan bahan baku penolong tumbuh
tinggi. Sepanjang 7 bulan pertama tahun ini, impor barang modal tumbuh
39,92%, sedangkan impor bahan baku penolong tumbuh 53,87%.
Optimisme pemerintah, yang mendapatkan
justifikasi dari forecast Stanchart atau Chatib, juga telah tecermin
dalam penurunan dana cadangan risiko fiskal 2011 secara signifikan dari
Rp4,9 triliun menjadi Rp1,1 triliun.
Perlu diingat, dana cadangan itu adalah
terobosan Sri Mulyani saat merumuskan APBN 2008 guna menghadapi
ketidakpastian situasi perekonomian global. Kali ini, ketidakpastian
yang dijadikan faktor oleh Menkeu Agus Martowadojo adalah soal cuaca.
Kita kembali dahulu ke forecast 2011.
Jangan salah, kali ini para ekonom Indef, yang acap berseberangan
dengan pemerintah juga merespons optimisme serupa Stanchart atau
Chatib. Beberapa di antara mereka bahkan lebih optimistis.
Fadhil Hassan, Ahmad Erani Yustika,
atau Aviliani misalnya, sama berpandangan bahwa laju perekonomian 2011
yang dipatok pemerintah cukup realistis, dengan peluang tembus 6,5%.
Meski, seperti Stanchart, mereka juga mengoreksi target inflasi yang
dinilai tak membumi.
Pertanyaannya sekarang, apakah
argumentasi yang diajukan pemerintah, juga justifikasi dari lembaga dan
para ekonom itu, sudah kuat benar hingga memitigasi dan melampaui
tekanan yang muncul atas risiko terjadinya kontraksi pascakrisis pada
tahun depan?
Faktor China
Pokok yang luput ditekankan oleh
lembaga dan para ekonom itu, dan pemerintah terutama, adalah bagaimana
dan seberapa jauh sebetulnya kontribusi AS dan Eropa terhadap situasi
perekonomian Indonesia setelah krisis keuangan global.
Masih jelas dalam ingatan kita,
bagaimana para menteri ekonomi kabinet sejak akhir 2007 sampai akhir
2010 ini, seperti terkonfirmasi dalam nota keuangan APBN 2011, masih
terus menggaungkan faktor resesi AS dan Eropa sebagai risiko
pertumbuhan ekonomi RI.
Alih-alih menjelaskan kemungkinan yang
akan terjadi, pemerintah telah mengabaikan satu detail penting, yakni
bahwa proses pemulihan ekonomi di Indonesia dan Asia umumnya dalam 3
tahun ini ‘sama sekali tidak berhubungan’ dengan apa yang terjadi di AS
dan Eropa.
Detail itu barangkali masih bisa
diperdebatkan. Namun, faktanya, tak lama setelah kejatuhan Lehman
Brothers, produksi barang industri atau manufaktur di Asia terus
meningkat hingga jauh melampaui capaian sebelum krisis.
Situasi ini nyaris berkebalikan dengan
apa yang terjadi di AS dan Eropa, karena pada saat yang sama, produksi
barang manufaktur di dua wilayah itu terus menurun dan tidak kunjung
pulih.
Fakta-fakta yang berkebalikan ini juga
terkonfirmasi oleh data konsumsi riil yang menunjukkan lompatan untuk
Asia. Sebaliknya konsumsi Eropa, AS, juga Jepang, relatif datar.
Tidak ada pengertian lain yang lebih
bisa menjelaskan situasi kontras ini, kecuali pemulihan perekonomian
Indonesia dan Asia akibat pukulan krisis subprime mortgage datang dari
Asia sendiri alias tanpa kontribusi apa pun dari AS dan Eropa.
Dalam pengertian itu pula lompatan
perekonomian China dalam 10 tahun terakhir ini mendapatkan konteksnya.
Chinalah, bukan AS atau Eropa, yang kini jadi sumber energi sekaligus
risiko terbesar merah hitamnya perekonomian Indonesia dan Asia.
Dengan kata lain, kalaupun harus
optimistis dengan perekonomian RI tahun depan, hanya dengan memahami
risiko kebesaran China dengan mengingat kenaikan laju inflasi dalam
beberapa bulan inilah seharusnya argumentasi disandarkan.
Kendala suplai
Namun, sebelum terlalu jauh
berspekulasi atau latah berargumentasi, mungkin baik kita lihat dahulu
apa saja yang mungkin ditimbulkan oleh risiko kebesaran China serta
kenaikan laju inflasi yang sudah memaksa sejumlah bank sentral di Asia
mengerek suku bunga acuannya.
Perlu segera ditambahkan, laju inflasi
di China kini mencapai 3,5%, tertinggi dari rata-rata sebelumnya, 1,5%
pada 1997/1998. Situasi di India tak jauh berbeda, 10% atau dua kali
lipat lebih tinggi dari rekor sebelumnya, yakni 5% pada 1997/1998.
Begitu pula di Singapura, yang mencapai
3,1% dari rata-rata 1,2% pada 1997/1998. Di Indonesia, inflasi Agustus
lalu tercatat 6,44%, merangkak dari posisi Juli 6,22% sekaligus kian
mengonfirmasi kegagalan target APBN 2010 yakni 5,3%.
Sejalan dengan situasi itu, Bank
Sentral India menaikkan suku bunganya sebanyak empat kali, Malaysia
tiga kali, Thailand, Korea dan Taiwan sekali. Bank Sentral Singapura
mengotak-atik kebijakan nilai tukar, sementara Indonesia menaikkan
persentase giro wajib minimumnya.
Yang menarik, di tengah situasi itu,
permintaan di China masih sangat kuat. Penjualan ritel dalam 7 bulan
terakhir tembus rekor 10 tahun terakhir. Investasi portofolio naik 32%,
pertumbuhan kredit jangka pendek dan panjang melompat 18% dan 42%.
Situasi yang kurang lebih sama juga
terjadi di Indonesia. Sampai Agustus, penjualan semen tumbuh 6% secara
tahunan, penjualan otomotif membubung 69% (wholesales) dan 61%
(retail), dengan pertumbuhan kredit 20,3%.
Dengan kenaikan permintaan di China
juga Indonesia dan hampir seluruh Asia umumnya, bagaimana menjelaskan
lompatan inflasi yang diikuti pengetatan kebijakan moneter dan
penguatan mata uang serta indeks saham?
Tentu ada banyak penjelasan untuk
situasi ini. Salah satunya adalah paparan Timothy Wong, Regional Head
DBS Vickers/DBS Group Reasearh yang dirilis pekan ini. Salah satu
paparan yang saya kira cukup meyakinkan dan layak dijadikan referensi.
Dari sisi penguatan mata uang, Wong
mengungkapkan nilai rupiah yang masih murah dengan iklim investasi yang
relatif stabil akan makin mendapatkan berkah dari potensi lanjutan
penurunan struktural dolar AS.
Berkah sejenis juga akan terlihat pada
indeks harga saham gabungan (IHSG) yang tahun depan diyakini tembus
level 4.135, dengan rasio harga terhadap laba bersih per saham 14% dan
return 28%, lebih tinggi dari proyeksi 2010, 13% dengan return 5%.
Secara lebih spesifik, potensi kenaikan
indeks ini juga didorong tingginya laba bersih per nilai ekuitas, serta
fakta masih murahnya IHSGyang kemarin menembus rekor psikologis baru di
level 3.501 apabila dikonversikan ke dolar AS.
Dari sisi inflasi, Wong menekankan,
kenaikan inflasi kini tak hanya disebabkan kenaikan harga makanan.
Dengan kata lain, ada persoalan di luar ketidakpastian cuaca yang kita
tahu dijadikan Menkeu Agus sebagai faktor alokasi dana risiko fiskalnya.
Dengan mengambil perspektif mendasar
bahwa melemahnya permintaan akan terefleksikan melalui laju inflasi
yang melandai, kebijakan moneter yang melonggar serta suku bunga yang
menurun, Wong mengungkapkan yang terjadi di Asia kini adalah constraint
pada suplai.
Persoalan itulah yang menjelaskan bahwa
secara keseluruhan, perekonomian Asia dan China khususnya mulai
melambat dari sisi margin, hingga berpotensi mengakibatkan sedikit
koreksi pada pertumbuhan ekonomi China, dari forecast 10% tahun ini
menjadi 9,5% tahun depan.
Bersandar pada hambatan suplai itu
pula, pertumbuhan ekonomi Indonesia diproyeksi terkoreksi tipis dari
6,0% tahun ini menjadi 5,8% dengan kenaikan laju inflasi dari 5,1%
menjadi 6,5%, suku bunga 8% serta nilai tukar rupiah Rp8.900 per US$.
Tentu kita boleh tidak setuju dengan
pendapat Wong, karena optimistis tidak selalu pilihan yang lebih baik
dari pesimistis, juga sebaliknya. Mungkin karena kita tahu, pemerintah
bisa melakukan banyak hal dan tidak hanya diam, apalagi sibuk curhat
cari perhatian. (Bisnis Indonesia)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar